Rabu, 21 Desember 2022
Tempat Nongkrong di Pinggir Pantai
The Winner World Cup 2022
Rabu, 30 Maret 2022
Titik Point Event Wonderful West Sumatera 2022
Rabu, 01 Maret 2017
Rabu Abu
Dalam gereja Kristen tradisi/ritus barat (termasuk Gereja Katolik Roma dan Protestanisme), Rabu Abu adalah hari pertama masa Pra-Paskah dalam liturgi tahunan gerejawi. Hari ini ditentukan jatuh pada hari Rabu, 40 hari sebelum hari Paskah tanpa menghitung hari-hari Minggu, atau 44 hari (termasuk hari Minggu) sebelum hari Jumat Agung.
Pada hari itu umat yang datang ke Gereja dahinya diberi tanda salib dari abu sebagai simbol upacara ini. Simbol ini mengingatkan umat akan ritual Israel kuno di mana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan (misalnya seperti dalam Kitab Ester, yaitu Ester 4:1, 3). Dalam Mazmur 102:10 penyesalan juga digambarkan dengan "memakan abu":
"Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan."
Biasanya pemberian tanda tersebut disertai dengan ucapan, "Bertobatlah dan percayalah pada Injil."
Seringkali pada hari ini bacaan di Gereja diambil dari Alkitab bagian kitab 2 Samuel 11-12, perihal raja Daud yang berzinah dan bertobat.
Banyak orang Katolik menganggap hari Rabu Abu sebagai hari untuk mengingat kefanaan seseorang. Pada hari ini umat Katolik berusia 18–59 tahun diwajibkan berpuasa, dengan batasan makan kenyang paling banyak satu kali, dan berpantang.
Jumat, 24 Februari 2017
Homili Jumat 24 Februari 2017
Hari Jumat, Pekan Biasa ke-VII
Sir 6:5-17
Mzm 119:12.16.18.27.34.35
Mrk 10:1-12
Sahabat yang setia tiada ternilai
Kita sebagai manusia dikenal sebagai makhluk sosial. Secara alamiah kita senantiasa terbuka kepada semua orang, dan memiliki kecenderungan untuk membangun relasi tertentu dengan mereka. Relasi itu memiliki nomenclature tertentu seperti kawan, teman dan sahabat. Ketiga bentuk relasi sosial ini memiliki makna yang berbeda-beda. Misalnya, kawan adalah seseorang yang kita kenal dalam hidup ini namun relasi kita tidaklah akrab. Teman adalah seorang pribadi yang kita kenal dengan akrab, namun kita tidak dapat saling berbagi disaat susah dan senang. Sahabat adalah seorang pribadi yang kita kenal akrab sehingga kita dapat saling berbagi dengannya disaat susah atau senang. Nah dari pemahaman sederhana ini kita dapat melihat perbedaan-perbedaan tertentu dalam relasi sosial kita. Maka dari dapatlah dikatakan bahwa tidak semua kawan dan teman adalah sahabat kita. Kawan dapat menjadi lawan kita. Teman dapat melupakan kita saat sedang mengalami kesulitan. Hanya sahabat sejati yang dapat berempati dalam segala situasi hidup kita. Sahabat sejati tidak pernah akan tertawa di atas penderitaan kita.
Tuhan Yesus dalam malam perjamuan terakhir menyapa para murid-Nya sebagai sahabat. Ia berkata: “Kamu adalah sahabat-Ku jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yoh 15:14). Yesus tidak menyapa murid-murid-Nya sebagai hamba sebab hamba tidak mengetahui apa yang dibuat oleh tuannya, tetapi Yesus menyapa mereka sahabat karena Ia sendiri sudah memberitahukan kepada mereka segala sesuatu yang telah didengar-Nya dari Bapa di surga (Yoh 15:15). Di bagian lain dalam Injil, Tuhan Yesus menyebut para murid-Nya sebagai sahabat-sahabat mempelai. Yesus berkata kepada murid-murid Yohanes Pembaptis:“Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan waktu itulah mereka akan berpuasa” (Mat 9:15). Kutipan-kutipan ini membantu kita untuk mengerti rencana Tuhan Yesus bahwa kita adalah sahabat-sahabat-Nya. Dia sendiri adalah mempelai dan kita adalah sahabat-sahabat mempelai yang merasakan sukacita bersama Tuhan. Tuhan Yesus tidak menyapa para murid sebagai kawan dan teman tetapi sebagai sahabat-sahabat-Nya. Dia senantiasa berempati dengan mereka.
Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini berbicara tentang persahabatan. Kitab Putra Sirakh mengatakan kepada kita bahwa tenggorokan yang manis mendapat banyak sahabat dan keramahan diperbanyak oleh lidah yang manis dan lembut. Tutur kata serta sapaan-sapaan yang keluar dari dalam mulut kita hendaknya menghasilkan buah-buah persahabatan yang baik bukan perselisihan. Seorang dapat dinilai sebagai pribadi yang etis berdasarkan tutur kata dan sapaan-sapaan yang keluar dari dalam mulutnya. Kitab Putra Sirakh memberi kiat-kiat tertentu bagaimana mendapatkan sahabat yang baik. Misalnya, jikalau kita mau mendapat sahabat maka perlu membuat sebuah kajian tentang pribadi itu terlebih dahulu dan jangan terburu-buru untuk percaya kepadanya. Mengapa demikian? Sebab ada orang yang bersahabat hanya menurut ketikanya sendiri, namun pada hari kesukaran kita tidak bertahan (Sir 6:7-8). Di sini kita disadarkan untuk bijaksana dalam memilih orang untuk menjadi sahabat.
Kitab Putra Sirakh juga memberi aba-aba kepada kita untuk bijaksana dan berkati-hati karena sahabat dapat berubah menjadi musuh dan menceritakan zona pribadi kita kepada orang lain. Hal ini tentu sangat memalukan. Ada sahabat yang senang makan bersama tetapi ketika kita berada dalam kesulitan maka ia segera menjauh. Dia hanya dekat dengan kita ketika kita berada dalam zona kesejahteraan. Dia akan menjauh ketika melihat hidup kita tidak sejahtera. Untuk itu sikap berhati-hati atau waspada selalu kepada orang yang dianggap sebagai kawan, teman bahkan sahabat sekali pun.
Siapakah sahabat setiawan? Sahabat setiawan adalah dia yang hadir dan bertahan dalam segala situasi hidup kita. Dia memiliki sikap berbela rasa, empati yang besar kepada kita. Kitab Putra Sirakh mengatakan bahwa sahabat sejati itu merupakan perlindungan yang kokoh, tiada ternilai dan harganya tidak tertimbang. Sahabat sejati itu obat kehidupan, hanya orang yang takut akan Tuhan dapat memperolehnya. Persahabatan semacam ini lurus hati antara setiap sahabat. Persahabatan itu memang penting dan harus kita miliki. Apakah anda dan saya sudah menjadi pribadi yang bersahabat? Apakah kita hanya menjadi pribadi yang berkawan dan berteman saja?
Persahabatan sejati dapat kita temukan dalam relasi para suami dan istri. Sesuai dengan rencana Tuhan sejak dunia dijadikan, Tuhan memiliki rencana dan kehendak untuk menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling membahagiakan sebagai sahabat. Sebab itu, laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikian mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia (Kej 2:24; Mrk 10: 6-9). Jadi Tuhan sendiri memiliki rencana yang luhur supaya para suami dan istri itu menjadi sahabat sejati sampai maut memisahkan mereka.
Tantangan persahabatan sejati pada suami dan isteri adalah perceraian. Percerian (divorzio) dan pisah ranjang(separazione) adalah dua hal yang menantang persahabatan sejati para suami dan istri masa kini. Tuhan Yesus mengatakan bahwa perceraian itu terjadi karena manusia memiliki hati yang tegar. Manusia bersifat egois dan memandang pasangan hidup bukan sebagai sahabat tetapi sebagai objek untuk dinikmati saja. Persahabatan suami dan istri hancur karena ketegaran hati, kesombongan manusiawi. Padahal tujuan perkawinan adalah supaya suami dan istri yang menjadi satu daging itu menjadi bahagia dan saling membahagiakan. Mengapa mereka mau menjadi bahagia? Karena mereka sepadan atau cocok satu sama lain. Mereka saling melengkapi satu sama lain.
Mari kita berjuang untuk membangun persahabatan sejati, persahabatan setiawan yang merupakan sebuah relasi penuh dengan empati. Para suami dan istri, jadilah sahabat yang saling membahagiakan, saling berempati satu sama lain. Sahabat yang bertahan dalam suka dan duka hingga maut memisahkan. Bertahanlah dalam derita, bersukacitalah dalam kasih.
Senin, 23 Januari 2017
Pertemuan OMK St. Fransiskus
Senin, 23 Januari 2017, Pertemuan perdana OMK St. Fransiskus Laverna tahun 2017 yang diadakan di Rumah saudari Agnes Laoli, tepatnya d Tandawana.
Pertemuan ini diawali dengan Nyanyi dan doa yang langsung dipimpin oleh Albert dan saya sendiri, kemudian dilanjutkan dengan laporan keuangan dan evaluasi kegiatan OMK selama 2016. Setelah laporan dan evaluasi, dilanjutkan dengan pembahasan kegiatan dan rencana Tahun 2017.
Kebaktian Oikumenis
Kamis, 19 Januari 2017, untuk mengenang arwah para misionaris yang tenggelan bersama Kapal Van Imhoff di perairan laut Pulau Simuk, maka Museum Pusaka Nias dibawah naungan Yayasan Pusaka Nias mengadakan kebaktian Oikumenis di Halaman Pameran Museum Pusaka Nias yang dihadiri oleh para Pendeta, Pastor, Suster, para biarawan/i, Mahasiswa/i STT Sunderman, STT Syalom, STP Dian Mandala, tokoh agama, tokoh masyrakat dan seluruh staff dan karyawan Museum Pusaka Nias, pengkhobah pada kebaktian ini adalah Ephorus Tuhoni dan inti dari injil yang disampaikan adalah Kita harus bersyukur atas kedatangan para Misionaris karena Berkat mereka sekarang mengenal Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus.